Antara Kualitas dan Kuantitas: Secuil Refleksi di Bulan Kaderisasi MAPABA
Setiap kali bulan kaderisasi tiba, suasana di tubuh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) selalu terasa hidup. Spanduk kegiatan, konten-konten dari setiap komisariat berseliweran di media sosial, panitia sibuk menyiapkan segala kebutuhan, dan calon anggota berdatangan dengan semangat yang menyala.
Di balik kesibukan itu, tersimpan harapan besar: lahirnya generasi baru yang akan meneruskan estafet perjuangan. Namun di tengah gegap gempita kaderisasi, acap kali terbesit pertanyaan dalam hati: apakah semangat kita hari ini benar-benar berorientasi pada pembentukan anggota/kader yang berkualitas, atau sekadar mengejar banyaknya peserta?
Fenomena di lapangan kadang menunjukkan kecenderungan untuk menjadikan kuantitas sebagai ukuran keberhasilan. Semakin banyak peserta yang ikut MAPABA, semakin dianggap sukses sebuah rayon atau komisariat. Padahal, esensi kaderisasi sejatinya tidak berhenti pada berapa banyak yang ikut, melainkan sejauh mana proses itu mampu menanamkan nilai dan kesadaran yang mendalam pada diri kader.
Kita tidak menafikan pentingnya menjaring sebanyak mungkin anggota baru. Kuantitas tetap dibutuhkan agar pergerakan tetap hidup. Namun apa artinya jumlah besar jika yang terbentuk hanyalah massa tanpa arah? PMII berdiri bukan untuk menambah angka, melainkan untuk melahirkan insan yang berdaya pikir, berkarakter, dan berkomitmen pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah serta kebangsaan.
Sebagaimana termaktub dalam tujuan PMII sendiri yakni: “Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertakwa kepada Allah Swt., berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggungjawab dalam mengamalkan ilmunya serta berkomitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.”
Kualitas kader tidak lahir secara instan. Ia tumbuh melalui proses pendampingan, pembinaan, dan ruang dialektika yang berkelanjutan. MAPABA hanyalah gerbang awal. Setelah itu, tanggung jawab pembentukan karakter dan ideologisasi tidak boleh berhenti. Di sinilah saya merasa semangat kita sering kali padam terlalu cepat, seolah kaderisasi selesai begitu acara ditutup.
Barangkali di bulan kaderisasi ini, kita perlu sejenak menundukkan kepala, nyeruput kopi dan bertanya kembali: apakah tujuan kita masih sejalan dengan ruh kaderisasi yang sebenarnya? Sudahkah kita mempersiapkan ruang tumbuh bagi kader-kader baru agar mereka tidak hanya tersemat identitas anggota PMII, tetapi juga benar-benar memahami nilai-nilai yang melekat di dalamnya?
Pada akhirnya, kita percaya bahwa kaderisasi sejati bukanlah kompetisi jumlah, melainkan proses menanam nilai. Lebih baik sedikit tetapi mengakar, daripada banyak namun mudah tercerabut. Namun ahsan_ lagi banyak dan mengakar hehe..._ Sebab PMII tidak akan diingat dari berapa banyak MAPABA yang terlaksana, melainkan dari seberapa dalam nilai-nilainya hidup dalam diri setiap anggota/kadernya.
Sahabat Mujtaba Akmal
Kader PMII Komisariat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Cabang Ciputat
Editor: Sahabati Fitri Yanti