Gaduh Nasab dan Krisis Arah NU
Judul ini terdengar mengguncang. Barangkali terasa getir bagi sebagian, namun inilah saatnya kita semua, Nahdliyyin untuk merenung bersama. Kita perlu mengarahkan pandangan jauh ke depan, bagaimana nasib Nahdlatul Ulama setelah melewati satu abad perjalanan?
Di tengah gejolak gelombang zaman digital, Muhammadiyah tampak lebih stabil. Mengapa demikian? Sebab Muhammadiyah sejak awal menegaskan dirinya sebagai gerakan pemurnian. Ideologi ini tegas membatasi diri dari berbagai pengaruh luar. Maka ketika dunia dihujani oleh berbagai pemikiran baru, mereka tidak mudah goyah.
Aswaja An-Nahdliyyah Tanpa Penyaring
Berbanding terbalik, NU setelah melewati abad pertamanya justru berguncang cukup serius dalam ranah pemikiran dan ideologi. Padahal NU pun memiliki ideologi yang jelas, Ahlussunnah wal Jamaah. Namun, terbukanya lebarnya gerbang aswaja tanpa penjagaan, membuat siapa pun bisa bebas keluar masuk dengan tafsirannya masing-masing.
Organisasi NU seolah lupa pada Muqaddimah Qanun Asasi, mukadimah konstitusi NU. Tak banyak yang menyebut kembali ajaran para muassis, khususnya K.H. Hasyim Asy’ari. Padahal, ajaran para pendahulu itu adalah fondasi agar NU tidak hanyut dalam arus zaman.
Kini, Aswaja dalam tubuh NU tampak tidak lagi memiliki pedoman utama yang dijaga ketat. Akibatnya, ideologi-ideologi asing pun masuk menumpang nama besar NU. Dari tafsir dosen-dosen yang belajar di Barat hingga konten kreator yang membuat narasi agama di media sosial.
Bahkan teori-teori filsafat dan sosiologi Barat yang dibungkus dalam narasi iman, fatwa-fatwa oknum intelijen dan politisi, serta dukun berkedok “Gus” pun ikut diberi label Aswaja. Dalam pandangan Kiai Abdul Wahab Ahmad (AWA), situasi ini telah menjadikan NU sebagai ruang persembunyian berbagai pemikiran menyimpang.
Distorsi Aswaja dan Dampak Buruknya
Apa yang terjadi kemudian? Aswaja seperti wadah kosong, diisi dengan apa saja tanpa penyaring. Hal ini berbahaya karena:
1. Warga Nahdliyyin menjadi terpolarisasi oleh aneka tafsir Aswaja yang tak terverifikasi;
2. NU mudah dimainkan oleh kekuatan luar dengan operasi penggiringan opini;
3. Kader-kader NU kehilangan kedalaman spiritual dan keilmuan karena Aswaja yang mereka konsumsi adalah versi instan.
Padahal, Aswaja sejati memiliki silsilah keilmuan serta kekuatan spiritual dari para wali yang terjaga melalui sanad dan karomah mereka. Para pendiri NU telah menyusun fondasi yang tidak akan mungkin melahirkan sikap mengkafirkan sesama muslim.
Namun kini, kita dapati sebagian youtuber yang mengklaim Nahdliyyin tega mengkafirkan, bahkan para wali yang telah wafat. Dukun berkedok “Gus” pun ikut bicara atas nama Aswaja, mendukung agenda-agenda oligarki yang mencaplok laut dan tanah air. sementara itu, ruh Aswaja dibiarkan jadi baju luar yang mudah dipalsukan.
Ironi di Tengah Krisis, Isu Nasab Sebagai Pengalihan
Ironisnya, di tengah krisis identitas dan disorientasi arah NU, mayoritas warga di Indonesia khususnya Nahdliyyin justru terseret ke dalam pusaran isu tak penting lagi menyesatkan, fitnah nasab. Isu ini sejatinya bukan murni perdebatan silsilah, melainkan telah dijadikan pengalihan isu elite politik tertentu.
Sebagaimana pernah disingkap oleh Munir Said Thalib, strategi ini digunakan sejak masa Orde Baru yang kini mulai bangkit kembali, menggiring publik pada wacana-wacana sensasional dan sibuk bertikai atas hal-hal yang sejatinya dapat diselesaikan dengan tenang.
Penulis percaya bahwa isu nasab bukanlah arena untuk digoreng di ruang publik demi kepentingan politik, apalagi untuk saling menjatuhkan. Persoalan ini sepatutnya diselesaikan oleh pihak yang memiliki otoritas dan keilmuan dalam bidangnya dengan cara yang santun.
Bukankah Syekh Maimun Zubair dan para ulama senior, baik nasional maupun internasional telah bijak mengatakan bahwa keturunan Walisongo berasal dari jalur yang sama seperti Ba’alawi (al-Husaini)? Maka kenapa harus dipertentangkan lagi?
Lucunya, sejak isu nasab ini mencuat, muncul orang-orang yang mengaku keturunan Walisongo turut mengganti marganya. Dahulu, Mantan Ketum PBNU, KH Said Aqil Siradj dikenal sebagai yang menyatakan dirinya keturunan Sunan Gunung Jati melalui jalur Azmatkhan. Namun sejak isu ini menyeruak, beliau justru tampak tidak lagi mengakui marga tersebut dan menyodorkan narasi baru.
Klaim Keji dan Solusi Penulis
Salah satu permasalahan utama dalam isu nasab ini adalah pernyataan sebagian kaum Ba'alawi masa kini yang meski mengakui Walisongo sebagai keturunan nabi melalui jalur Alwi Ammul Faqih (Azmatkhan), akan tetapi mengklaim bahwa keturunannya telah terputus. Hal ini melukai perasaan para dzurriyah Walisongo yang silsilahnya masih terjaga hingga hari ini.
Saran Penulis, kaum Ba'alawi seharusnya tidak membuat klaim tersebut. Jika Walisongo diakui sebagai keturunan nabi, maka keturunannya pun harus diakui sebagai bagian dari keluarga besar Rasulullah. Ini penting untuk menghapus kesenjangan sosial yang muncul akibat narasi eksklusif segelintir pihak.
Solusinya ialah serahkan urusan nasab Walisongo kepada pihak yang berwenang, seperti kesultanan untuk mengesahkan dan mendata mereka (keturunan Walisongo) secara resmi. Mereka yang terbukti sah seharusnya juga dihormati sebagai Habib, seperti dzurriyah Ba’alawi lainnya.
Pengalaman pribadi Penulis ketika berkomunikasi langsung dengan salah seorang pengurus Rabithah Alawiyah cabang Serang yang menyatakan bahwa keturunan Walisongo telah putus, faktanya ialah marga-marga Azmatkhan seperti Tubagus masih eksis terjaga sampai kini. Fenomena semacam ini menunjukkan adanya ketidakkonsistenan yang mencederai keteladanan.
Di saat isu ini seharusnya didekati dengan ketenangan dan ilmu, justru malah menjadi ajang bongkar identitas yang tidak karuan. Jika mencintai nabi adalah muaranya, maka seharusnya kita lebih sibuk menjaga adab ketimbang mempertentangkan jalur darah. Karena darah keturunan pun tak berarti bila tak menyinari umat dengan ilmu dan kasih sayang.
Tergoda Pembaharuan Hingga Melupakan Warisan
Lebih menyedihkannya sebagian elite NU justru lebih tertarik mengejar istilah-istilah modern seperti fikih peradaban atau humanitarian Islam. Padahal warisan Hadratussyaikh sangat lah sederhana: ajakan bertakwa, persatuan, dan mengikuti jalan para ulama terdahulu.
Di tengah banjir pemikiran kala itu, Mbah Hasyim membangun NU untuk bertahan di atas nilai-nilai dasar, bukan untuk memburu pembaruan. Ormas-ormas lain yang dahulu gencar menyerukan pembaruan pemikiran, tidak semuanya bertahan. Ada yang sirna dan ada pula yang terjebak dalam ekstremisme.
Sementara NU dengan ajakannya yang sederhana dan bersumber dari warisan yang agung tetap tumbuh dan berkembang. Namun, sekarang kita harus mengakui! Apakah NU sebagaimana dibayangkan Mbah Hasyim masih utuh? Barangkali casing nya ada, namun jiwanya tengah mengalami krisis identitas.
Nahdlatul Ulama di Persimpangan
NU berada di persimpangan zaman digital, era di mana segala sesuatu diakhiri oleh otoritas, doktrin, bahkan keberadaan negara-bangsa dan agama itu sendiri. Fungsi-fungsi NU yang dahulu dibayangkan oleh Mbah Hasyim, kini banyak diambil alih oleh pesantren-pesantren yang masih setia menjaga sanad, forum-forum silaturahmi, dan majelis-majelis zikir yang sunyi namun kuat.
Maka di tengah zaman yang mengakhiri segalanya, NU justru harus kembali ke pangkalnya, berpegang teguh pada ajaran para pendahulu yang salih, bukan pada arus popularitas dan sentimen sesaat. Hanya dengan cara itu NU akan tetap kokoh menghadapi tekanan global dan tidak mudah roboh oleh manuver-manuver digital yang dikendalikan dari balik layar.
Sahabat Muhammad Husein Fadhlillah
Kader PMII Komisariat Fakultas Syariah dan Hukum Cabang Ciputat
Editor: Sahabati Fauziah Nur Hasanah