Loading Logo

Memuat...

Artikel 27 October 2025 1 month ago 0 kali dibaca

Ketenangan dan Kekacauan, Menemukan Kedamaian dalam Ketidakpastian

Ketenangan dan Kekacauan, Menemukan Kedamaian dalam Ketidakpastian

Memiliki harapan, tanda sederhana seseorang masih hidup. Di tengah dunia yang fluktuatif dan arus perubahan yang terjadi secara eksponensial, manusia kian dihadapkan pada tekanan yang kompleks terkait kehidupnnya: tuntutan pekerjaan, rumitnya hubungan, ekpektasi sosial, juga kegelisahan tentang masa depan. 

Tidak sedikit manusia modern berbondong-bondong mencari jawaban atas hal tersebut-dalam buku motivasi, nasihat sosial, bahkan mencari pelarian sesaat yang jelas tidak berkepanjangan. Seringkali solusi yang ditawarkan hanya bersifat sementara.

Padahal, jauh dari dua ribu tahun lalu, para Filsuf Yunani dan Roma telah lebih dulu memikirkan juga mencari jawaban atas persoalan yang sama. Tanpa adanya teknologi juga akses informasi yang canggih dan instan tentunya, mereka memiliki pendekatan yang relevan hingga hari ini. 

Salah satu dari sekian banyaknya pendekatan tersebut adalah metode Stoicism, sebuah filosofi yang menawarkan cara berfikir jernih nan bijaksana dalam menghadapai kompleksitas hidup.

Stoicism: Filsafat Ketenangan

Stoicism bukan sekedar barang antik dan kuno yang hanya berdiam diri dalam museum sejarah. Hadirnya merupakan panduan praktis yang harapannya bisa membantu manusia modern agar tetap tenang di tengah badai kehidupan, jernih ketika diselimuti kabut ketakutakan, dan menjadi pondasi kokoh ketika dihadapkan dengan kenyataan yang tak selalu sesuai dan ideal. 

Harapannya tulisan ini bisa menjadi jembatan juga jawaban atas pertanyaan besar: bagaimana menjadi tenang di tengah kehidupan yang mencemaskan?

Kehadiran Stoicism bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai tempat berpijak untuk tetap berdiri di tengah terpaan gelombang ketidakpastian. Stoicism tidak lahir dari ruang hampa. Ia muncul dari dunia yang juga penuh dengan ketidakstabilan: perang, konflik politik, ketidakpastian hidup, dan penderitaan.

Marcus Aurelius dan Warisan Meditations

Marcus Aurelius — seorang kaisar Romawi yang memimpin di tengah gejolak kekaisaran pada saat itu — menulis catatan pribadinya yang kini dikenal sebagai Meditations. Bukan untuk publik, melainkan sebagai pengingat bagi dirinya sendiri agar tetap waras dan bijak. 

Dalam salah satu catatannya, ia menulis: “Kebahagiaan hidupmu tergantung pada kualitas pikiranmu.” Sebuah ajakan untuk menyadari bahwa kita tidak selalu bisa mengendalikan apa yang terjadi, tapi kita bisa mengatur bagaimana kita memaknai semuanya.

Dikotomi Kendali dalam Stoicism

Konsep inti dari Stoicism adalah dikotomi kendali-gagasan. Bahwa dalam hidup ini hanya ada dua jenis hal: yang bisa kita kendalikan (dikotomi Internal) dan yang tidak (dikotomi ekternal). Pikiran, tindakan, dan sikap kita adalah milik kita. Dalam kata lain, ini merupakan bagian dari dikotomi internal manusia.

Sementara itu, pendapat orang lain, hasil akhir dari usaha, atau masa lalu yang sudah terjadi adalah hal yang di luar kuasa kita atau biasa dikenal dengan dikotomi eksternal manusia. Mengarahkan energi pada apa yang bisa kita kendalikan itulah bentuk kebijaksanaan praktis yang ditawarkan Stoicism.

Dalam praktiknya, prinsip ini memberi kita ruang untuk bernapas. Ketika segala hal terasa salah, ketika dunia tampak mengecewakan, Stoicism tidak meminta kita untuk menghilangkan rasa kecewa itu. Ia justru mengajak kita untuk menghadapinya dengan kepala dingin: menerima bahwa hidup tidak selalu ramah, tapi tetap memilih untuk merespons dengan ketenangan.

Stoicism dan Psikologi Modern

Pendekatan ini sejalan dengan temuan dalam psikologi modern. Salah satunya melalui konsep mental contrasting yang dikembangkan oleh Gabrielle Oettingen. Dalam dunia yang dipenuhi jargon positif “think happy, be happy”, Oettingen justru menunjukkan bahwa terlalu optimis tanpa melihat rintangan bisa menjadi jebakan.

Mental contrasting mengajak kita untuk memvisualisasikan tujuan yang kita inginkan. Kemudian secara sadar memikirkan tantangan yang mungkin muncul. Dengan begitu, kita tidak hanya berharap, tapi juga bersiap. 

Benang Merah: Bijak dalam Harapan

Kedua pendekatan ini, meskipun lahir dari konteks yang berbeda, memiliki benang merah yang sama: menghadapi kenyataan dengan jujur, tidak menolak harapan tetapi juga tidak menyangkal hambatan, serta tidak menggantungkan diri pada hasil tetapi fokus pada proses.

Stoicism membantu kita tetap berdiri dan mental contrasting membantu kita melangkah dengan arah. Hidup tidak akan berhenti menjadi rumit. Akan selalu ada hal yang di luar kendali, orang yang tidak sesuai harapan, dan masa depan yang tak bisa ditebak. 

Tapi seperti yang diajarkan Stoicism, kita tidak perlu mengendalikan segalanya untuk bisa hidup dengan tenang. Kita hanya perlu mengendalikan diri sendiri, sikap, dan pilihan kita untuk tetap berjalan meski pelan, tetap jernih meski diliputi keraguan.

Di sisi lain, mental contrasting memberi kita cara yang lebih realistis untuk bermimpi: tidak sekadar membayangkan hidup yang tenang, tapi juga bersiap menghadapi yang membuatnya terasa kacau. Harapan yang sehat bukan tentang menghindari kenyataan, melainkan tentang keberanian untuk menatap lurus ke depan dan tetap memilih melangkah.

Mungkin tidak ada formula pasti untuk hidup yang damai. Tapi dengan berpikir jernih, menyadari batas kendali, dan merespons hidup dengan bijaksana, kita bisa membangun versi ketenangan kita sendiri. Bukan ketenangan yang sempurna, tapi yang cukup untuk membuat kita tetap utuh. Barangkali dalam dunia yang fluktuatif ini, “cukup” adalah jawaban yang paling bijak.

Sahabat Fathur Heriansyah

Kader PMII Komisariat Fakultas Ushuluddin dan Perguruan Tinggi Umum Cabang Ciputat 

Editor: Sahabat Rakan Abdel Jabar 

Bagikan Artikel:

Artikel Lainnya