Menyeimbangkan Akademik dan Organisasi
Perdebatan klasik di kalangan mahasiswa adalah tentang prioritas: mana yang lebih penting, nilai akademik (IPK) atau pengalaman non-akademik seperti organisasi dan kepanitiaan? Sebagian mahasiswa berfokus penuh mengejar IPK sempurna, namun mengorbankan pengembangan diri di luar kelas.
Sebagian lagi terlalu asyik berorganisasi hingga lupa bahwa tugas utama mereka adalah belajar. Jawaban terbaik terletak di tengah: keduanya sama pentingnya. IPK yang tinggi adalah tiket masuk Anda untuk lolos seleksi administrasi beasiswa atau lowongan kerja pertama.
Namun, pengalaman organisasi adalah yang akan membedakan Anda dari kandidat lain saat tahap wawancara.
Jangan pernah meremehkan pentingnya IPK. Nilai akademik adalah bukti kuantitatif pertama dari kedisiplinan, kemampuan analisis, dan tanggung jawab Anda dalam menyelesaikan tugas.
Banyak perusahaan dan institusi pendidikan lanjut masih menggunakan IPK minimum sebagai filter awal. Akademik membangun fondasi pengetahuan dan hard skills yang fundamental. Di sisi lain, dunia kerja tidak hanya mencari orang pintar, tetapi orang yang bisa bekerja sama dengan orang lain.
Di sinilah peran organisasi menjadi sangat krusial. Organisasi adalah "laboratorium" untuk mengasah soft skills yang tidak diajarkan di kelas, seperti kepemimpinan, komunikasi publik, negosiasi, manajemen konflik, dan kemampuan membangun jejaring (networking).
Kunci suksesnya adalah menemukan titik tengah keseimbangan. Tentukan prioritas Anda berdasarkan fase kuliah: mahasiswa baru sebaiknya fokus pada adaptasi akademik, mahasiswa semester tengah adalah waktu emas untuk aktif berorganisasi, dan mahasiswa semester akhir harus mulai fokus pada skripsi serta magang.
Alih-alih mengikuti semua organisasi karena FOMO (Fear of Missing Out), pilihlah satu atau dua organisasi yang benar-benar sesuai minat dan tujuan karir Anda. Tetapkan batasan yang jelas, misalnya, "tidak akan pernah melewatkan kelas untuk rapat."
Mahasiswa yang paling sukses adalah mereka yang bisa mengintegrasikan keduanya—menggunakan teori di kelas untuk memecahkan masalah di organisasi, dan menggunakan masalah di organisasi sebagai studi kasus nyata untuk pembelajaran di kelas.
Pada akhirnya, keberhasilan di dunia nyata tidak hanya diukur dari angka IPK atau banyaknya jabatan organisasi, tetapi dari kemampuan Anda memadukan keduanya menjadi karakter unggul yang berkompeten dan berintegritas.
Sahabat Hafizh Siregar
Kader PMII Rayon Syariah Komisariat Kebayoran Lama Cabang Jakarta Selatan
Editor: Sahabati Fitri Yanti