Pemerintahan Amerika Serikat Alami Shutdown, Menjadi yang Terpanjang dalam Sejarah
Tahukan kalian? Bahwasannya saat ini pemerintahan di Amerika Serikat Tengah mengalami pemberhentian kerja, atau yang dalam bahasa Inggris disebut “Government Shutdown”. Kalian bisa bayangkan negara sebesar Amerika Serikat yang dilengkapi dengan gedung pemerintahan megah, teknologi canggih, dan ekonomi terbesar di dunia tiba-tiba harus “berhenti bekerja”.
Semua itu disebabkan oleh kegagalan atau ketidaksetujuan kongres dalam menyetujui anggaran tahunan atau dana operasional pemerintah. Baru-baru ini pemerintahan Amerika Serikat mengalami shutdown, tepatnya pada 1 Oktober 2025 setelah kongres gagal menyetujui rancangan undang-undang pendanaan untuk tahun fiskal baru yang dimulai pada hari itu.
Latar belakang tidak setujunya pemerintah ini dimulai ketika terjadi sebuah perdebatan sengit soal pendanaan layanan kesehatan, khususnya penolakan Partai Demokrat terhadap pengurangan dana Medicaid (bantuan kesehatan bagi warga miskin) dan pengurangan anggaran lembaga kesehatan seperti CDC dan NIH. Mereka juga ingin subsidi asuransi dari program “Affordable Care Act” tetap diperpanjang agar rakyat bisa tetap mendapatkan asuransi kesehatan yang terjangkau.
Di sisi lain, Partai Republik yang menguasai DPR dan senat justru ingin mengurangi anggaran di bidang itu karena dianggap terlalu membebani keuangan negara. Mereka merasa tidak perlu menambah subsidi atau mempertahankan semua program tersebut. Presiden Donald Trump sempat mencoba menjembatani kedua pihak, akan tetapi kedua belah pihak tidak ada yang mau mengalah dan akhirnya terjadi shutdown.
Dampak yang dihasilkan oleh government shutdown bukan main. Saat hal ini terjadi, sebanyak 1,4 juta pegawai federal mengalami "cuti paksa" atau bekerja tanpa bayaran. Layanan publik seperti pengelolaan bandara, keamanan penerbangan, dan layanan kesehatan masyarakat terganggu. Bahkan terdapat ancaman penutupan sebagian wilayah udara akibat kekurangan pegawai sehingga ekspor Indonesia ke Amerika pun bisa terganggu, terutama produk tekstil, elektronik, dan sektor lain yang bergantung pada permintaan Amerika.
Aneh tapi nyata, pemerintahan super power bisa lumpuh hanya karena para politikus di senat dan DPR tak sepakat soal anggaran. Shutdwon-nya pemerintahan Amerika pada tahun ini tercatat menjadi yang terpanjang dalam sejarah. Sebelumnya mereka pernah mengalami beberapa kali hal yang serupa, seperti pada era pemerintahan Jimmy Carter tahun 1978, shutdown berlangsung selama 19 hari.
Bahkan Presiden Ronald Reagan menghadapi hingga delapan kali shutdown singkat selama masa jabatannya tahun 1980-an dengan durasi tiap shutdown relatif singkat, antara satu sampai tiga hari. Pada masa Presiden Obama terjadi shutdown selama 16 hari karena ketidaksepakatan terkait anggaran juga. Sekarang pada pemerintahan Donald Trump di tahun 2025, shutdown telah terhitung berjalan selama 36 hari, memecahkan rekor pendahulunnya.
Akan tetapi, meski tengah mengalami shutdown, untuk saat ini Amerika Serikat masih bisa berjalan. Hal tersebut dikarenakan mereka tetap mampu menjalankan layanan publik yang sifatnya esensial seperti keamanan nasional, pengendalian lalu lintas udara, layanan medis darurat, polisi, dan militer, meskipun dengan konsekuensi gaji pegawai tertunda. Sementara itu, pegawai di bidang non-esensial seperti taman nasional, museum, dan layanan administrasi tertentu dirumahkan sementara tanpa gaji.
Pemerintah juga memanfaatkan anggaran cadangan dari periode sebelumnya untuk menjaga agar sebagian kegiatan penting tetap berjalan. Singkatnya, Amerika Serikat tetap berfungsi di tengah shutdown karena prioritas diberikan pada layanan penting, sedangkan layanan non-esensial dihentikan sementara sampai ada persetujuan anggaran baru dari kongres. Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda bahwa Amerika akan segera lepas dari kondisi shutdown.
Perundingan anggaran masih mengalami kebuntuan antara Partai Republik dan Partai Demokrat di kongres, khususnya soal pendanaan layanan kesehatan dan program subsidi asuransi kesehatan. Di tengah perundingan tersebut, Presiden Donald Trump juga sempat mengancam untuk menghentikan bantuan kepada jutaan warga Amerika yang membutuhkan di mana justru semakin memperkeruh suasana negosiasi.
Pihak legislatif masih belum menunjukkan tanda kompromi jelas sehingga shutdown ini menjadi yang terpanjang dalam sejarah Amerika sampai saat ini. Dengan kondisi ini, negosiasi diperkirakan akan terus berjalan hingga ada kesepakatan bipartisan di kongres. Jadi, meski upaya terus dilakukan, hingga awal November 2025 belum ada indikasi konkrit bahwa pemerintah Amerika akan segera lepas dari shutdown ini.
Sahabat Giovani Haris Sabandi
Kader PMII Komisariat Fakultas Ushuluddin dan Perguruan Tinggi Umum Cabang Ciputat
Editor: Sahabati Fitri Yanti