Loading Logo

Memuat...

Berita 27 October 2025 1 month ago 0 kali dibaca

Ketua FKMSB Jabodetabek Protes Tayangan Xpose Trans7

Ketua FKMSB Jabodetabek Protes Tayangan Xpose Trans7

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Forum Komunikasi Mahasiswa Santri Banyuanyar (DPW FKMSB) Wilayah Jabodetabek, Fernando Adi Saputro mengecam keras tayangan dari salah satu program Xpose di stasiun televisi Trans7 yang telah menyakiti keluarga besar santri dan pondok pesantren di seluruh Indonesia.  

Sangat disayangkan media sebesar seperti Trans7 membuat berita yang sangat tidak pantas, bahkan menyinggung salah satu masyayikh sepuh pondok pesantren Lirboyo, Kediri yaitu K.H. Anwar Mansur. Vidio tersebut menayangkan informasi yang sangat merendahkan marwah beliau. 

Masalah ini berbuntut panjang. Para santri Lirboyo dan juga santri dari berbagai pesantren lain melakukan gugatan dan perlawanan kepada pihak Transmedia selaku yang harus bertanggung jawab atas framing buruk tersebut. 

Banyak dari santri dan alumni pondok pesantren dari seluruh wilayah Indonesia melakukan perlawanan dengan membuat statement #BoikotTrans7. Santri-santri mendesak semua pihak, terutama KPI (Komisi Penyiaran Inonesia) untuk menindak tegas Trans7 dengan sebaik-baiknya.  

Jika gugatan tersebut tidak dilaksanakan dalam kurun jangka 1x24 jam, maka kemungkinan akan lebih banyak massa yang berunjuk rasa menuntut keadilan. 

Hal ini disebabkan telah menyakiti hati santri pondok pesantren seluruh Indonesia dengan dijelekannya guru/kiai pondok pesantren, bahkan hingga sekelas kiai sepuh Lirboyo yang terkenal dengan kelembutan, keikhlasan, dan tawadhu’ nya, K.H. Anwar Mansur. 

FKMSB Jabodetabek, yang dalam hal ini diwakili oleh Ketua DPW Fernando Adi Saputro, mengecam keras tindakan semena-mena tersebut. Meskipun FKMSB adalah organisasi alumni Pondok Pesantren Banyuanyar Madura, namun jika terdapat seorang pimpinan pesantren ataupun pesantren yang dihina, maka semua pesantren dan alumni lain akan ikut merasa tersakiti.  

Orang-orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren tidak paham akan esensi dari sebuah hubungan antara kiai dan santri. Ketidaktahuannya kepada sistem pesantren yang mereka anggap jadul dan jahiliyyah dibawa ke media-media untuk menyerang pondok pesantren. 

Takzim kepada guru merupakan kewajiban santri sebagai bentuk penghormatan kepada seorang yang telah mengajarinya ilmu. Dalam kitab Ta’lim Muta’alim karangan Syekh Az-Zarnuji, telah dijelaskan, “salah satu pilar seorang santri untuk mendapatkan ilmu adalah dengan menghormati gurunya". Bahkan terdapat satu ulama yang mengatakan “Saya akan menghormati seseorang guru sampai akhir hayat, walaupun hanya mengajarkan satu huruf kepadaku”. 

Ironisnya, akhir-akhir ini framing tentang kiai yang mengajar di pondok pesantren disalahartikan. Bentuk penghormatan atau takzim kepada kiai/guru dianggap sebagai bentuk perbudakan atau foedalisme modern. 

Padahal, disiplin yang diajarkan di pesantren adalah bentuk pendidikan yang paling relevan. Sebab dari sana lah kebiasaan baik dan positif terbangun. Kebiasaan yang menuntut konsistensi tinggi para santri kepada hal-hal yang mendapatkan pahala. 

Stereotip yang menganggap bahwa disiplin tersebut sebagai penindasan dan tidak membuat mereka menjadi bebas, sudah selayaknya —orang-orang yang tidak pernah belajar di pesantren— buktikkan sendiri. Output yang dihasilkan disiplin seorang santri dan seorang yang tidak belajar di pesantren nantinya akan tampak berbeda. 

Peran santri di kancah nasional dan internasional pun bahkan untuk bangsa Indonesia sudah tidak bisa diragukan lagi. Sumbangsihnya tidak terhitung. Bukti konkritnya adalah ketika Bung Tomo memimpin perlawan di Surabaya. Kala itu, sebagian besar yang ikut berperang melawan penjajah adalah santri. 

Menjelang Hari Santri Nasional yang sebentar lagi dirayakan pada 22 Oktober 2025, semoga pesantren dan santri selalu mendapat tempat yang layak dan diperhatikan oleh negara dan pemerintah di Indonesia sehingga santri dapat selalu berkarya dan berkontribusi kepada bangsa ini.

Sahabat Fernando Adi Saputro 

Kader PMII Komisariat Fakultas Ushuluddin dan Perguruan Tinggi Umum Cabang Ciputat 

Editor: Sahabati Fitri Yanti

Bagikan Artikel:

Berita Lainnya