Mimbar Bebas Ushuluddin: Konsistensi Menolak Lupa, Lawan Tindakan Represif Aparat
Ciputat, 29 Agustus 2025 – Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Mimbar Bebas dalam rangkaian PBAK Humanistik 2025 dengan tema “Konsistensi Melawan Lupa: Peran Mahasiswa dalam Menjaga Demokrasi dan HAM”. Acara menghadirkan inisiator Aksi Kamisan, Maria Catarina Sumarsih, serta akademisi Qushtan Abqary Hisan Firdaus, M.A.
Acara dibuka dengan lantang oleh Ketua Pelaksana, Muhammad Zulkhari Akram, dengan menyerukan semagat perjuangan:
Hidup Mahasiswa!
Hidup Rakyat Indonesia!
Hidup Perempuan yang Melawan!
Hidup Korban!
Sorakan tersebut menggema, menjadi alarm bahwa mahasiswa tak akan pernah tunduk pada kebungkaman.
Mimbar bebas ini juga menjadi perlawanan atas situasi terkini: banyaknya massa aksi yang ditangkap, suara rakyat dibungkam, dan aparat semakin represif terhadap demonstran. Mahasiswa menegaskan, represi terhadap kebebasan berekspresi bukan sekadar cacat demokrasi, melainkan ancaman serius bagi masa depan bangsa.
Dalam forum, dipaparkan data KontraS periode Juli 2024 – Juni 2025 yang mencatat 602 peristiwa kekerasan oleh kepolisian, di antaranya 411 kasus penembakan dan 44 salah tangkap dengan total 1.020 korban. Angka itu bukan sekadar statistik, ia adalah wajah luka bangsa: mahasiswa, jurnalis, paramedis, petani, masyarakat sipil, hingga aktivis.
Mahasiswa Ushuluddin menegaskan tiga sikap perlawanan:
- Pemerintah hari ini tak berbeda dengan rezim sebelumnya.
- Keadilan lahir dari keberanian rakyat, bukan belas kasihan penguasa.
- Rekonsiliasi hanya mungkin jika pelaku pelanggaran diadili tanpa kompromi.
Selain itu, mereka menyuarakan 11 tuntutan, mulai dari mengadili pelaku pelanggaran HAM berat, menghapus impunitas, menghentikan represifitas aparat, menolak UU Polri dan TNI yang membungkam kebebasan, hingga menolak aparat masuk kampus.
"Di tengah gelombang massa yang kian membesar, mahasiswa mendesak Presiden untuk segera bersikap —berpihak pada rakyat— atau membiarkan sejarah mencatatnya sebagai bagian dari penguasa yang menutup mata." - ucap akram.
Acara ditutup dengan kembali menggema seruan:
“Hidup Mahasiswa!
Hidup Rakyat Indonesia!
Hidup Perempuan yang Melawan!
Hidup Korban!”
Sebagai penegasan sikap: mahasiswa menolak lupa, konsisten melawan represi, dan menjaga api demokrasi tetap menyala.
Sahabat Muhammad Lutfi Firdaus
Kader PMII Komisariat Fakultas Ushuluddin dan Perguruan Tinggi Umum Cabang Ciputat
Editor: Sahabati Fitri Yanti
